Putus Cinta Akan Menjadikanmu Makin Dewasa dan Bijaksana

Putus Itu Cinta Akan Menjadikanmu Makin Dewasa dan Bijaksana - Ketika hubungan asmara yang selama ini diperjuangkan namun pada akhirnya harus gagal di tengah jalan, kita cenderung memilih untuk bersedih dan mengutuki keadaan. Menyalahkan diri sendiri dan pasangan yang tidak bisa baik-baik mempertahankan hubungan. Kita seringkali lupa bahwa dibalik setiap kejadian atau peristiwa pasti kebaikan yang bisa didapat.

Jangan Mau Terus-terusan Bersedih Karena Putus Cinta - www.NetterKu.com : Menulis di Internet untuk saling berbagi Ilmu Pengetahuan!
Original image by Galleryhip.com

Masih segarkah ingatanmu tentang kisah putus cinta di masa lalu? Ya, kegagalan nyatanya tak melulu membawa kesedihan. Akan selalu ada pelajaran yang menjadikanmu semakin dewasa dan bijaksana menyikapi hubungan cinta yang berikutnya. Sadarlah kalau ini bukan akhir, tapi hanya permulaan buat kamu untuk mencari pasangan yang baik kedepannya. Inilah kutipan dari Hipwee.com, alasan kenapa saat putus cinta itu bisa membuat kamu semakin dewasa dan bijaksana.

Kamu bisa sembuh asalkan mau memaafkan dan berdamai dengan dirimu sendiri.


Jangan merasa jadi pihak yang patut dipersalahkan. Jika hubunganmu gagal, kamu bukan satu-satunya yang harus bertanggung jawab. Sepatutnya sebuah hubungan bisa diusahakan bersama, kamu dan pasanganmu punya porsi tanggung jawab yang sama besarnya.

Bisa memaafkan diri sendiri adalah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan. Meski momen putus cinta membuat hidupmu berantakan, kamu harus bisa menerima dan menyikapinya dengan bijaksana. Ya, hidupmu memang tak berarti selesai setelah kata putus terlontar dari mulut orang yang paling kamu cintai.

Dunia akan terus berputar, pun kehidupanmu masih terus berjalan. Tak ada alasan untuk menyerah pada keadaan.

Setelah putus, kamu tak seharusnya berlama-lama tenggelam dalam kesedihan. Berhenti mempertanyakan keadaan adalah caramu agar bisa hidup lebih tentram.


Wajar jika kamu merasa sedih ketika menerima kenyataan bahwa hubungan yang diperjuangkan akhirnya gagal. Di fase-fase awal, kamu cenderung sibuk mempertanyakan keadaan lantaran belum benar-benar bisa menerima. Kamu pun akan berusaha menganalisa dan menemukan penyebab kandasnya hubungan.

Kenapa harus putus jika hubungan kami rasa-rasanya sudah sempurna? Apa aku punya kekurangan, atau dia yang memang sudah malas berjuang?

Sibuk memikirkan sesuatu yang sudah terjadi justru akan membuatmu kepayahan. Kamu tak sadar sudah menghabiskan banyak waktu untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tak perlu. Parahnya, pikiranmu justru dipenuhi prasangka dan hal-hal negatif yang membuatmu semakin terpuruk. Urusan kuliah, perkara pekerjaan, hubungan dengan keluarga dan teman pun bisa jadi berantakan.

Momen putus cinta sama halnya sebuah ujian. Memilih terpuruk dalam kesedihan berarti gagal, sedangkan berusaha tegar dan fokus pada kehidupanmu selanjutnya adalah sebuah pencapaian.

Patah hati adalah momen refleksi. Daripada sibuk mengutuki diri, pikirkan apa yang tak boleh kamu ulangi di hubungan yang baru nanti.


Saat benar-benar terpuruk lantaran putus cinta, seringkali kamu memilih mengutuk dan menyalahkan. Rasa sedih, kecewa dan marah yang begitu hebat membuat kamu tak bisa bersikap bijaksana. Merasa diri sendiri tak sempurna, menyalahkan pasangan yang punya kebiasaan buruk, hingga mengutuk keadaan yang membuat kamu dan pasanganmu tak bisa bersatu, tak dapat restu dari orang tua atau beda agama misalnya.

Tak mau menerima kenyataan dengan lapang justru akan berakibat buruk. Dengan kata lain, kamu membiarkan dirimu diliputi kesedihan dan pikiran-pikiran negatif. Tanpa sadar, kamu justru sedang melewatkan kesempatan untuk menemukan pasangan yang baru dan hidup bahagia.

Seberapa pun kamu merasa sedih dan kecewa, tak ada yang bisa disalahkan atas kemalangan yang menimpamu. Jika bisa disikapi dengan bijaksana, putus cinta justru membuatmu belajar bahwa di hubungan selanjutnya kamu tak boleh mengulang kesalahan-kesalahan yang sama.

Sakit hatimu tak akan sembuh dalam semalam. Dia pun bisa tiba-tiba kambuh ketika pikiranmu terdistraksi kenangan dengan mantan.


Setelah putus, proses menyembuhkan hati tak akan terjadi secara mie instan. Tak sekadar satu atau dua bulan, kadang butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa benar-benar sembuh atau berdamai dengan keadaan. Di minggu-minggu pertama, kamu mungkin hanya bisa menangis dan mengurung diri di kamar. Setelah beberapa bulan, kamu mungkin baru akan merasa baikan.

Tapi, siapa sangka jika luka itu bisa tiba-tiba kembali menganga saat melihat sesuatu yang mengingatkanmu pada mantan? Lagu yang biasa kalian dengarkan berdua atau warung makan yang sering kalian sambangi bersama misalnya.

Layaknya naik roller coaster, perasaanmu seperti naik turun tanpa kamu bisa mengendalikannya. Meskipun terdengar melelahkan, pencapaianmu diukur dari seberapa kuat kamu bisa bertahan dan mau berusaha. Jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi dan begitu seterusnya. Perlahan kamu akan bisa menguasai perasaanmu sambil terus berhati-hati menata hidupmu kembali.

Kadang, kamu hanya bisa terdiam dan meremang. Berharap dia yang pernah dalam-dalam kamu sayang akan kembali datang.


Ada kalanya kamu tak sanggup melawan perasaan yang masih begitu kuat pada mantan pasangan. Betapa setiap bangun tidur kamu tak pernah lupa melihat aktivitasnya di media sosial. Sesekali memeriksa ponselmu sendiri sambil berharap ada SMS atau panggilan masuk yang selama ini kamu tunggu-tunggu.

Sedang apa dia di sana? Bagaimana pekerjaan dan hari-harinya? Apakah semua baik-baik saja, atau dia juga merasakan kesedihan yang sama?

Kadang, kamu masih terbayang kenangan-kenangan saat bersama dia. Masih ingin melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan selama kalian pacaran, mengirim ucapan selamat pagi romantis atau menanyakan apakah dia sudah makan atau belum. Kamu lupa bahwa saat ini keadaan sudah jauh berbeda.

Meski momen putus cinta menjadikanmu seperti seseorang pesakitan, kamu tahu bahwa keinginanmu adalah sembuh. Seiring berjalannya waktu, kamu akan terbiasa dengan kehidupanmu yang baru tanpa dia ada di sampingmu.

Baik dan buruknya sifat mantan pasangan harus dikenang dengan seimbang agar tak menyalahkan keadaan atau ringan meminta balikan.


Sebuah hubungan yang gagal cenderung membuatmu berpikir negatif tentang sang mantan. Semakin kamu memikirkan kekurangan dan sifat-sifat buruknya, semakin kamu merasa kecewa dan marah. Kamu bisa jadi membenci mantan pacarmu saat memgingat sikap-sikap buruknya dulu. Dia yang sering marah-marah tanpa alasan, mudah cemburu buta dan berkata kasar.

Demi bisa menjalani hidup yang lebih tenang, cobalah untuk mengingat kebaikan dan keburukannya dengan seimbang. Meski pemarah, toh dia perhatian dan begitu peduli padamu. Sekalipun sering bersikap kekanakan, dia pula yang selalu bisa membuatmu tertawa.

Mengingat hal baik dan buruk di masa lalu dengan seimbang menjadikan emosimu lebih stabil dan menjaga perasaanmu tetap netral. Karena mengingat hal-hal baik saja mungkin membuatmu ingin kembali pada mantan, sedangkan mengingat hal-hal buruk menjadikanmu tak berhenti merasa sedih dan kecewa.

Patah hati harus dihadapi. Berusaha lari dengan menyibukkan diri bukanlah solusi.


Banyak yang beranggapan bahwa cara paling efektif untuk menyembuhkan patah hati adalah dengan menyibukkan diri. Pergi traveling, sengaja bekerja lembur, rajin-rajin nongkrong dan kumpul-kumpul dengan teman, atau bahkan buru-buru menemukan pendamping yang baru.

Sayangnya, jika kamu semata-mata hanya ingin lari, selamanya kamu tak akan sembuh dari sakit hatimu. Menyibukkan diri memang baik, tapi pastikan bahwa kegiatan-kegiatan itu tak kamu lakukan dengan emosi. Setelah pergi ke pantai atau naik gunung, kamu tak lantas bisa melupakan masalahmu kan?

Maka, mulailah dengan menyelami dirimu sendiri. Mencerap setiap sakit dan sedih yang kamu harus kamu rasakan saat putus cinta. Yang pasti, jangan pernah berusaha lari karena sakit hatimu tak akan sembuh dengan sendirinya.

Bahagialah karena cinta yang baru pasti sedang menunggumu, siapkan dirimu dan mulailah dengan mencintai diri sendiri dulu.


Kandasanya hubunganmu bukan akhir dari segalanya. Mungkin, momen ini justru jadi awal pertemuan dengan pasangan yang sebenar-benarnya. Setelah pernah gagal, kamu tetap berhak menjajal hubungan yang baru. Menemukan pasangan dan menjalani hubungan yang lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman gagal justru jadi bekal karena banyak pelajaran berharga dalam momen putus cinta.

Tapi, ingatlah bahwa menemukan cinta yang baru juga bukan perkara sederhana. Pengalaman mengajarkanmu untuk tak sembarangan memilih pasangan. Pencarianmu akan lebih mudah ketika kamu bisa selesai dengan dirimu sendiri. Menerima segala kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki sehingga siapapun yang kelak kamu temui akan melihat dirimu sebagai individu yang utuh. Bersama dia yang bisa menerima segala kurang dan lebihmu, menjalani hubungan yang langgeng dan bertahan selamanya tidaklah mustahil.

Menjalin hubungan cinta ibarat maju ke medan perang. Selalu ada kemungkinan untuk menang, tapi bukan mustahil kamu pulang ke rumah dengan tubuh penuh luka berdarah.

Baca Juga : Cara Agar Kamu Menjadi Orang yang Menyenangkan

Sebenarnya putus cinta itu tidak akan seberapa menyiksa, ketika kita bisa menerima dan melihatnya sebagai sebuah pengalaman yang berharga. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada sahabat netter yang lain bisa melalui button Facebook, Twitter, Google+ yang ada di bawah artikel dengan menyantumkan link URL blog ini sebagai sumber. Tetap stand by di Situs Remaja NetterKu.com dan sampai ketemu di lain waktu, Horasss!